

(hummmm) Hutan menangis dalam api yang membakar,
Akar mencengkam pada tanah yang sukar.
Nafas sang rimba semakin menghilang,
Ditelan rakus dek nafsu yang menjulang.
Langit membiru kini kelabu,
Debu menyapa dalam setiap restu.
Bumi makin penat, memikul beban berat,
Luka yang dicarat, tiada lagi ubat.
Hancur berkecai, janji yang kita tabur,
Dalam debu dosa, segalanya lebur.
Bumi makin penat... oh,
semakin tenat. Lautan hitam,
buihnya penuh racun, Mati segala hidupan yang beralun.
Gunung meruntuh, rahimnya digali,
Emas dicari, nyawa tak dipeduli.
Setiap saat, nadi kian perlahan,
Menanti saat tamatnya sebuah bertahan.
Bumi makin penat, memikul beban berat,
Luka yang dicarat, tiada lagi ubat.
Hancur berkecai, janji yang kita tabur,
Dalam debu dosa, segalanya lebur.
Bumi makin penat... oh,
semakin tenat.
Dengar... jeritan yang membisu,
Lihat... warna yang kian lesu.
Kita...
punca segala pilu, Menghitung hari
di hujung waktu!
Bumi makin penat, memikul beban berat,
Luka yang dicarat, tiada lagi ubat.
Hancur berkecai, janji yang kita tabur,
Dalam debu dosa, segalanya
lebur.
Semakin tenat... Bumi kian penat...
Nafas terakhir...